Kasus DBD di Prabumulih naik dua kali lipat satu meninggal dunia dalam dua bulan

Prabumulih,Ekspost.com-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Prabumulih meningkat dalam dua bulan terakhir, sampai dengan bulan Februari 2020. Dari 74 penderita yang tercatat, satu di antaranya meninggal dunia.
Sesuai data yang dimiliki Rumah Sakit Umum Daerah Kota Prabumulih, jumlah kasus hingga pertengahan Februari tahun ini menyamai jumlah kasus pada bulan Januari 26 kasus.
Pada bulan Januari lalu, satu orang pasien meninggal dunia warga Desa Pangkul Kecamatan Cambai Kota Prabumulih.
Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Prabumulih, Adi Kuanto Skep Mars mengatakan, jika jumlaj pasien DBD pada Februari ini mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya.
“Pasien DBD saat ini mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya yang hanya 26 orang dan sekarang berjumlah 74 orang. Itu total keseluruhan terbagi dari Prabumulih 33 orang dan dari luar daerah sebanyak 41 orang, jadi pasien itu telah terdeteksi dan dirawat RSUD Prabumulih,” katanya kepada wartawan, Selasa (18/02/2020).
Ditanya antisipasi mencegah terjadinya wabah DBD, Adi Kuanto S Kep Mars menjelaskan upaya yang paling baik adalah melakukan antisipasi dengan 3M yakni Menutup, Menguras dan Mengubur tempat bakal nyamuk berkembang.
“Selain perlu membudayakan hidup sehat dan pola 3M juga untuk mencegah terjadinya wabah DBD memasuki musim penghujan, tim Dinas Kesehatan dan pihak rumah sakit terus menyebar bubuk abate maupun fooging,” bebernya.
Sementara itu Sekretaris Komisi 1 DPRD Prabumulih, Feri Alwi mengungkapkan, dinas kesehatan harus cepat tanggap menghadapi wabah DBD karena ini bisa meresahkan masyarakat.
“Kemarin kita melakukan sidak ke Desa Pangkul karena adanya pasien yang meninggal bulan lalu tapi itu bukan semata karena DBD namun disertai penyakit paru-paru seharusnya dinas kesehatan Pemkot Prabumulih harus cepat tanggap mengatasi hal seperti ini karena wabah DBD ini datangnya setiap tahun otomatis kan sudah ada pengalaman,” tegas Feri.
Ditanya apakah dinkes terkesan lamban menangani hal seperti ini, Feri Alwi menuturkan, tindakan yang dilakukan dinas kesehatan tidak terkesan lamban karena sudah ada tindakan-tindakan yang dilakukan sebelumnya.
“Kalau untuk lamban menangani masalah DBD ini mungkin tidak karena tindakan-tindakan untuk mencegah wabah DBD inikan sudah dilakukan tetapi untuk kedepannya dinas kesehatan dapat mendorong agar puskesmas diberi peran lebih dalam hal pencegahan dan tindak lanjut DBD itu,” katanya.
“Mereka seharusnya tahu meletakkan mana saja daerah yang rawan DBD dengan laksanakan fooging sebagai bentuk antisipasi dan kita selalu mendukung anggaran apa saja yang dibutuhkan oleh dinkes untuk mengatasi hal-hal seperti itu,” ucapnya. (SM)

Categories: Kesehatan